Struk Belanja

Tribunners Harus Tahu, Struk Belanja Ternyata Mengandung Racun, Bahaya Bagi Tubuh Kita

Tribunners Harus Tahu, Menyimpan Struk Belanja Terlalu Lama Tidak Baik Bagi Kesehatan

Penulis: Wahyu Herliyanto
Editor: Rahimin
istimewa
struk belanja yang mengandung racun 

TRIBUNJAMBITRAVEL.COM, JAMBI - Tribunners harus tahu tantang struk belanja.

Jika anda sering menyimpan struk belanja terlalu lama atau mengoleksi struk belanjaan  tidak baik bagi kesehatan tubuh karena mengandung racun.

Apa saja bahayanya? Mengapa struk belanjaan sebaiknya tidak disimpan terlalu lama di dompet?

Baca juga: Ikut Stop Penyebaran Covid-19, Pesawat Garuda Ikut Pakai Masker Batik

Ternyata, struk belanjaan mengandung racun.

Tidak banyak yang tahu jika struk belanjaan mengandung zat yang berbahaya bagi tubuh. Zat tersebut adalah BPA atau Bisphenol A.

BPA merupakan senyawa kimia yang biasa digunakan untuk mengeraskan plastik. Bahan kimia ini biasa Anda temukan pada plastik wadah makanan, botol plastik, hingga struk kertas belanja.

Pada penelitian yang melibatkan hewan percobaan, BPA ternyata bisa mengganggu fungsi hormon endokrin. Hal tersebut dikarenakan kandungan yang ada pada BPA berefek sama dengan hormon estrogen yang bisa menyebabkan perubahan kelenjar prostat dan jaringan payudara.
Walaupun efek buruk BPA baru terbukti pada hewan, para peneliti menganjurkan sebaiknya tetap menghindari hal-hal yang mengandung BPA.

Baca juga: Hindari Begal di Jalan Tol Trans Sumatera, Sopir Dihimbau Pergi Secara Kelompok

Seperti yang dilansir dari Plastic Pollution Coalition, BPA yang ada di kertas struk bisa mengganggu sistem reproduksi pada pria dan wanita. Hal tersebut dapat terjadi akibat menyerapnya senyawa kimia yang menyerupai estrogen tersebut ke kulit Anda.

Jika Anda sering menyimpan kertas struk belanja di dompet maupun kantong celana, risiko yang dapat terjadi seperti:

Kanker payudara, Kanker prostat, Diabetes, Obesitas.

Baca juga: Viral, Selain Menjual Celana Dalamnya, Pramugari Ini Berikan Layanan Seks

Hal ini dibuktikan melalui sebuah penelitian dari tiga negara, yakni Brazil, Spanyol, dan Perancis. Ternyata, walaupun dalam dosis yang sangat sedikit, terdapat bukti yang menunjukkan bahwa BPA yang ada di struk belanja bisa memicu kanker.

BPA di struk belanjaan bisa menyerap kulit
Usut punya usut, ternyata BPA yang ada di struk belanja Anda tidak terikat secara kimiawi. Oleh karena itu, sangat mudah bagi Anda untuk terpapar racun dari struk belanja. Mulai dari menyentuhnya langsung, terpapar melalui uang yang ada di dompet dengan struk belanja Anda, hingga belanjaan Anda.

BPA yang diproses di hati membentuk bisphenol A glucoronide dan sebagian besar dikeluarkan dengan urin. Struktur fenolik BPA telah terbukti dapat berinteraksi dengan estrogen dan bisa berdampak buruk kepada hormon yang dimiliki oleh wanita tersebut.

Oleh karena itu, zat ini membantu memicu gangguan pada endokrin, termasuk membuat pria dan wanita tidak subur.

Baca juga: Standar Prosedur Pariwisata Selama Pandemi Covid-19, Panduan CHSE Wisata Gunung Diberlakukan

Beberapa studi telah mengungkapkan bahwa orang yang sering menyentuh struk belanja, seperti kasir, ternyata mendapatkan konsentrasi BPA yang lebih tinggi dibandingkan yang lainnya. Hal tersebut ditemukan dalam perbandingan urin mereka ketika meneliti masalah ini.

Selain itu, paparan BPA juga berpengaruh terhadap frekuensi dan kebersihan tangan seseorang. Pada tangan kasir yang bekerja lebih dari sepuluh jam ditemukan 71 mg BPA. Jumlah tersebut jauh lebih banyak dibandingkan pada tangan orang-orang biasa yang hanya terpapar 7.1 – 42.6 mg per hari.

Sedikit kadar BPA tetap bisa berisiko bagi kesehatan

Seperti yang dilansir oleh Web MD, sebuah penelitian baru-baru ini mengungkapkan bahwa penggunaan dosis rendah BPA ternyata mempengaruhi kesehatan biologis hewan percobaan. Walaupun dikatakan dapat digunakan dalam dosis yang aman, menggunakan BPA dalam dosis rendah masih bisa memicu kanker payudara dan penyakit lainnya.

Baca juga: Akhir Tahun, Luminor Hotel Jambi Tawarkan Program Makan Malam Romantis Bersama Pasangan

Penelitian ini dilakukan selama 2 tahun dengan memberikan BPA dan hormon estrogen kepada 4000 tikus percobaan. Semua tikus tersebut diberikan dosis yang sama sebelum mereka melahirkan. Beberapa dari mereka tetap diberikan BPA sampai akhir hidupnya, sebagian lainnya hanya diberikan sampai mereka tidak lagi menyusui.

Dosis terendah yang diberikan kepada tikus-tikus tersebut sebanyak 2.5 mikrogram sehari dan dosis tertingginya adalah 25.000 mikrogram. Hasilnya cukup mengejutkan. Tikus-tikus yang masih muda dan diberikan dosis yang rendah sampai mereka tidak lagi menyusui ternyata berpotensi besar menderita kanker payudara.

Ikuti kami di

BERITA TERKINI

© 2022 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved