Tren Bersepeda

Bersepeda Sedang Tren, Bisa Pilih Sepeda Bekas Import di Kuala Tungkal, Jambi

Bersepeda Sedang Tren, Bisa Pilih Sepeda Bekas Import di Kuala Tungkal, Provinsi Jambi

Penulis: Wahyu Herliyanto
Editor: Rahimin
Istimewa
Bersepeda Sedang Tren, Bisa Pilih Sepeda Bekas Import di Kuala Tungkal, Jambi 

TRIBUNJAMBITRVEL.COM, JAMBI - Bersepeda menjadi sebuah tren saat ini.

Bagi anda yang sedang mencari sepeda bisa ke lapak sepeda bekas import.

Lapak sepeda bekas import ada di kawasan Parit 1 Kuala Tungkal, Kabupaten Tanjung Jabung Barat, Jambi.

Di sana anda akan menemukan sepeda bekas produksi luar negeri yang masih layak pakai dan juga unik. Ditambah lagi dengan harga mulai Rp  400 ribu sampai jutaan rupiah.

Baca juga: Tempat Nongkrong di Jambi, Foresthree Tugu Djoeang Konsep Industrial Manjakan Pecinta Kopi

-Meningkatnya minat masyarakat untuk bersepeda berdampak terhadap kenaikan harga sepeda.

Hal inilah yang diungkapkan oleh, Ulfi satu di antara penjual sepeda bekas dan baru yang ada di Kuala Tungkal, Kabupaten Tanjung Jabung Barat. Rabu (22/7/2020).

Peminat sepeda bekas sebenarnya disebutkan cukup banyak, namun memang saat ini ketersediaan barang yang sulit.

Baca juga: Tribunners, Khusus Goweser Sekarang Ada Jalur Sepeda di Kota Jambi Lho! 

"Kalau yang mau sepeda bekas itu lumayanlah, apalagi kalau yang barang dari luar (negeri) kan. Tapi stok memang susah sekarang," katanya.

Lebih lanjut soal minat, kata Ulfi kebanyakan saat ini minat masyarakat beralih pada sepeda baru. Ini juga melihat tren model dari sepeda baru yang bermunculan. Namun harga sepeda baru dalam dua minggu terakhir mengalami kenaikan.

Baca juga: Traveller Harus Tahu, Bandara Sultan Thaha Jambi Belum Berlakukan Rapid Test Antigen

"Sepeda baru yang paling diminati, jenis-jenis Aviator yang banyak diminati. Kalau seken itu sebagian ada dari luar (negeri) ada juga yang lokal," ungkapnya.

Lebih lanjut dikatakannya bahwa saat ini harga sepeda seken juga terbilang cukup tinggi. Kondisi ini terjadi sekitar dua minggu terakhir, ini juga dampak dari aktivitas masyarakat yang mengikuti tren.

"Harga kita ambil juga tinggi jadi agak susah juga kita jual. Sudah itu stok juga tidak banyak. Kalau harga itu kita mulai dari Rp 400 ribu sampai Rp 1,4 juta," sebutnya.

.
 

Ikuti kami di

BERITA TERKINI

© 2022 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved