Jembatan Beatrix

Kisah Penamaan Jembatan Beatrix Sarolangun Dari Ratu Belanda

Kisah Penamaan Jembatan Beatrix Kabupaten Sarolangun Dari Ratu Belanda Wihelmina

Penulis: Wahyu Herliyanto
Editor: Rahimin
istimewa
Jembatan Beatrix, Ikon Kabupaten Sarolangun 

TRIBUNJAMBITRAVEL.COM, JAMBI - Jembatan Beatrix Kabupaten Sarolangun adalah jembatan yang dibangun pada zaman penjajahan Belanda.

Pada penamaan Jembatan Beatrix itu memang lah dari Ratu Belanda yakni Wilhelmina. Namun bukan ia yang meminta nama jembatan yang berada di Kabupaten Sarolangun itu menjadi Beatrix.

Baca juga: Ikon Kabupaten Sarolangun, Jembatan Beatrix Ternyata Pernah Runtuh

"Saat jembatan sedang dalam proses lahir lah salah satu cucu ratu Wilhelmina, yang di beri nama Beatrix, lalu pemerintah setempat meminta izin memberikan nama jembatan tersebut bernama Beatrix borg, yang artinya Jembatan Beatrix," sambung Hermanto.

Team dari Sarolangun Tempo Doeloe sangat nekat beberapa tahun lalu, saat Ratu Belanda Beatrix yang di undang presiden Jokowi untuk berkunjung ke pulau jawa, untuk berkunjung juga ke Kabupaten Sarolangun.

"Kami sempat kirimkan email ke kerajaan Belanda, nekat saja namun bukan rezeki kami ia belum bisa berkunjung ke jembatan yang di berikan namanya," tutur Hermanto.

Baca juga: Minimalisir Kerumunan Saat Malam Tahun Baru di Kota Jambi, Ratusan Petugas Gabungan Berjaga

Hermanto mengatakan, jembatan sempat fakum lama sejak runtuh pada tahun 1970 an, lalu di perbaiki lagi oleh pada zaman pemerintahan Bupati Sarolangun pertama Muhammad Madel pada kisaran waktu tahun 2000 an.

Dari tahun 1973 hingga tahun 2000 hanya di sambung oleh Pemerintah Sarko pada masa itu yakni jembatan gantung untung menghubungkan antara Jembatan Beatrix.

Baca juga: Korintji Heritage, Tempat Nongkrong di Kerinci, Ramai Dikunjungi Para Pelancong

Sisi lain, pada masa kelahiran ratu Beatrix, lahir lah sepasang anak kembar yang lahir di hari yang sama dengan kelahiran Ratu Beatrix, yang beralamat di Pelayang, Kecamatan Sarolangun.

"Saya cari tahu rupanya si kembar ini sering dikirimkan makanan pokok seperti keju gandum oleh Pemerintah Belanda hingga akhir hayat si kembar, bahan makanan tak di kirim dari Belanda namun ada utusan yang mengirimkan ke si kembar untuk menghormati hari kelahiran yang sama dengan ratu Belanda Beatrix," jelas Hermanto. (Tribun Jambi/Rifani Halim).

Sumber: Tribun Jambi
Ikuti kami di

BERITA TERKINI

© 2023 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved