Wisata Budaya dan Sejarah Jambi

Berikut Bangunan Lama di Kota Jambi, Wisata Budaya dan Sejarah Jambi Bisa Kamu Kunjungi

Berikut Bangunan Lama di Kota Jambi, Wisata Budaya dan Sejarah Jambi Bisa Kamu Kunjungi

Penulis: Wahyu Herliyanto
Editor: Rahimin
istimewa
Berikut Bangunan Lama di Kota Jambi, Wisata Budaya dan Sejarah Jambi Bisa Kamu Kunjungi 

TRIBUNJAMBITRAVEL.COM, JAMBI - Ada banyak situs bersejarah di Jambi perlu kamu tahu tribunners.

Kali ini ada beberapa bangunan lama, wisata sejarah Jambi bisa kamu datangi.

1. Makam Rajo-Rajo

Bagi anda yang penasaran seperti apa bangunan makam seorang Raja, anda perlu berkunjung ke Makam Rajo-Rajo Jambi. Wilayah pemakaman kuno yang dikeramatkan penduduk setempat ini merupakan sebuah tempat bersemayamnya raja-raja yang pernah memimpin di Jambi. Makam ini berlokasi di Kecamatan Telanaipura, 4 km dari pusat kota. Di tempat ini dimakamkan isteri Sultan Thaha Syaifuddin, Raden Mattaher, dll.

Baca juga: Wisata Kuliner di Jambi, Bisa Dateng ke Even Menarik di Jajan Akhir Pekan

2. Candi Muaro Jambi

Candi Muaro Jambi ini terletak di Kecamatan Maro Sebo, Desa Muara Jambi, Kabupaten Muara Jambi. Untuk mencapai akses ke candi ini Anda tidak perlu khawatir, mengunjungi tempat ini bisa dengan menggunakan kendaraan roda dua ataupun roda empat. Jarak lokasi ini dari pusat kota Jambi adalah 26 km. Hal ini tentunya membuat area ini cukup strategis sebagai salah satu tujuan wisata anda jika anda ingin sedikit merasakan nuansa klasik di Candi Muaro ini. Di komplek ini juga terdapat kolam yang disebut Kolam Telago Rajo, tempat penampungan air pada masa itu.

3. Kota Tua Batang Hari

Pada masa penjajahan Belanda, dibangunlah sebuah kota yang bernuansa Netherland di tanah Jambi. Bangunan ini menjadi saksi bisu tentang masa-masa peralihan kekuasaan dari masa penjajahan ke masa kemerdekaan. Sampai saat ini bangunan ini masih bisa dikunjungi, namun beberapa sudut dan bagian bangunan telah direnovasi oleh pemerintah kota Jambi.

Baca juga: Cobain Resep Bubur Ayam Sederhana, Cocok Buat Kamu Sarapan

4. Menara Air

Di daerah Putri Ayu, terdapat sebuah menara air yang sepintas terlihat biasa, namun menara air ini merupakan menara tempat pengibaran bendera merah putih ketika Indonesia merdeka pada tahun 1945. Menara Air ini dibangun pada masa penjajahan Belanda, bangunan setinggi 90 meter ini kini dikelola oleh PDAM. Belanda sering memanfaatkan menara ini untuk mengintai musuh yang hendak menyerang melalui sungai yang ada di bawahnya.

5. Kelenteng Hok Tek

Kelenteng ini merupakan kelenteng bersejarah, terutama bagi pemeluk agama Budha karena kelenteng ini merupakan kelenteng pertama yang ada di Jambi. Kelenteng ini terletak di jalan Husni Tamrin, Kelurahan Beringin, Kecamatan Pasar, kota Jambi. Kelenteng ini berdiri sekitar tahun 1800. Karena beberapa alasan, kelenteng pun dipindahkan ke kawasan Kampung Manggis Jl Kirana II RT 10, Kelurahan Cempaka Putih, Kecamatan Jelutung, Kota Jambi, sekitar tahun 1982.

6. Rumah Batu Pangeran Wirokusumo

Pangeran Wirokusumo, yang bernama asli Ali Idrus Al-Jufri dihadiahi oleh Belanda sebuah rumah yang terbuat dari batu. Singkat cerita, konon Raden Mattaher yang sedang bersembunyi dicari-cari oleh Belanda. Belanda saat itu berusaha mencari dan bertanya kepada Pangeran Wirokusumo. 

Baca juga: Hati-Hati, Membungkus Makanan Panas Dengan Kantong Plastik, Dapat Meningkatkan Risiko Kanker

7. Masjid Al-Falah

Masjid yang sangat terkenal dengan sebutan ‘masjid seribu tiang’ ini dibangun pada tahun 1971 dan selesai pada tahun 1980, dengan menghabiskan 9 tahun masa pembangunan. Masjid terbesar di kota Jambi ini walau terkenal dengan sebutan Masjid Seribu Tiang, namun sebenarnya tiang yang ada di dalam masjid ini hanyalah berjumlah 256 buah. Bentuk masjid ini sederhana dengan tanpa adanya sekat dan dinding, yang ada hanyalah tiang dan atap beserta kubanya.

8. Istana Abdurrahman Thaha Saifuddin

Istana ini terletak di Tanah Garo Muara Tabir Jambi. Sulta Thaha Saifuddin merupakan raja terakhir dari kerajaan jambi yang juga dinobatkan sebagai pahlawan nasional. Ia meninggal dalam pertempuran melawan Belanda dengan semangat gigih memperjuangkan tanah lahirnya. Nama harum sultan Jambi ini juga tersohor sampai ke negeri Turki. Pada tahun 1298 H Turki menghadiahi Sultan Thaha Saifuddin dengan medali bersegi tujuh. Penghargaan juga datang dari dalam negeri dengan didirikannya patung untuk mengenang Sultan Thaha Saifuddin di depan kantor Gubernur Jambi.

Ikuti kami di

BERITA TERKINI

© 2022 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved